Kabar menyedihkan untuk seluruh pelajar nusantara, karena tuntutan tentang di hapuskannya ujian nasional tidak mendapat respon dari pemerintah bahkan menteri pendidikan tetap akan mengadakan ujian nasional. Memang selama ini ujian nasional merupakan standar yang paling ampuh untuk mengukur kompetensi dan kelulusan para peserta didik baik mulai dari kalangan sekolah dasar, sekolah menengah hingga sekolah tingkat atas. namun yang di sayangkan ketika ujian nasional berlangsung kemurniaan akan hasil belajar siswa tidak tampak yang terjadi adalah saling mencontek agar bisa lulus ujian nasional dengan baik. Tidak jarang ada sebagian kepala sekolah atau guru bahkan oknum tetentu yang membocorkan soal ujian nasional demi kelancaran para peserta didik, agar bisa lulus ujian nasional dengan baik. Tidak jarang pula kita jumpai fenomena bagi peserta didik yang tidak lulus ujian nasional mengakhiri nyawanya begitu saja. Naudzubillahimindzalik........
Muncullah sebuah pertanyaan kenapa kita para peserta didik ketika ujian maupun ulangan dilarang mencontek bahkan menggunakan piranti pembelajaran selain pensil dan buku dilarang? Sejenak kita fahami bahwa penedidikan itu bisa berlangsung jika faktor-faktor pendidikan terpenuhi diantaranya: peserta didik, pendidik, tujuan, lingkungan, sarana dan prasana. Diantara sarana ada sebuah metode dan alat yang digunakan dalam pembelajaran atau pendidikan. Baik alat eloktronik maupun non elektronik, dengan alat dan metode proses pembelajaran bisa berlangsung denngan baik dan mencapai tujuan yang dicita-citakan dengan sempurna. Kenapa ketika ujian berlangsung semua alat kognitif baik berupa alat elektronik maupun non elektronik harus ditanggalkan?.Ujian atau evaluasi merupakan puncak dan klimaks dalam proses pembelajaran, bahkan dalam teori Bloom taxsonomy (knowledge recall) merupakan urutan teratas kedua. dan tentunya tujuan ujian atau evaluasi untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam menyerap ilmu yang telah disampaikan oleh seorang pendidik. Dengan ujian dam evaluasi tersebut pendidik bisa mengetahui sejauh mana pengetahuan yang telah mampu ditransfer kepada muridnya. Tentu untuk mengetahui hasilnya harus benar-benar bersih dari pengaruh piranti atau alat kognitif yang dipakai oleh peserta didik. Karena tanpa piranti kognitif pendidik benar-benar bisa mengetahui hasil murni dari penyerapan akan ilmu yang telah diajarkan oleh seorang pendidik kepada peserta didiknya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar